PEMANFAATAN JERAMI JAGUNG SEBAGAI PAKAN TERNAK

30 Oct

Tanaman jagung memiliki nilai ekonomis yang tinggi, buka saja dari hasil buahnya. Hasil
ikutannya pun memiliki nilai ekonomis antara lain sebagai bahan bakar, keperluan
industri kertas termasuk kebutuhan pakan ternak. Meski hamparan tanaman jagung
dapat kita jumpai di beberapa daerah di Indonesia, namun ketersediaan jagung
tidaklah berlangsung sepanjang tahun.

Pemanfaatan Tanaman Jagung

Pemanfaatan hasil ikutan tanaman jagung berupa batang dan daun yang masih muda, dikenal
sebagai jerami jagung dimanfaatkan sebagai hijauan pakan ternak sudah banyak
dilakukan petani, namun belum seluruhnya optimal pemanfaatannya. Selain
diberikan pada ternak sebagai hijauan segar, jerami jagung juga dapat diberikan
sebagai hijauan pakan ternak yang mengalami proses pengolahan teknologi pakan
dalam bentuk hay dan silase.

Seiring berkembangnya daerah-daerah sentra tanaman jagung yang berguna untuk memenuhi
kebutuhan industri pakan ternak, tidak menutup kemungkinan juga dapat
dikembangkan menjadi kawasan daerah potensi petani penghasilan olahan hijauan
hasil ikutan tanaman jagung berupa silase dan hay akan memberikan nilai tambah
pada pendapatan keluarga petani.

Teknologi Pengolahan Jerami Jagung

Pada saat musim panen jagung tersedia jerami jagung yang melimpah, begitu selesai masa
panen jagung tidak jarang jerami jagung menjadi langka. karena itu teknologi
pengolahan pengawetan jerami jagung perlu dibudayakan oleh petani ternak guna
tersedianya hijauan pakan ternak sepanjang tahun dan sekaligus akn meningkatkan
kualitas mutu pakan. Pembuatan hay, jerami jagung segar dilayukan dan
dikeringkan untuk diawetkan dan disimpan dalam beberapa waktu. proses
pengeringan dan pelayuan pembuatan hay akan menurunkan kandungan kadar air
sampai tersisa dua puluh persen tanpa adanya kerusakan nilai gizi pakan kecuali
vitamin a dan d yang cenderung turun. Jerami jagung yang baik untuk pembuatan
hay adalah batang dan daun jerami jagung yang masih berwarna hijau.

Pembuatan hay dilakukan dengan dua cara yaitu model hamparan dan model pod. pembuatan hay
model hamparan, dengan cara menghamparkan jerami jagung yang sudah
dipotong-potong dilapangan terbuka dibawah sinar matahari. setiap hari
dilakukan pembalikan berulang-ulang sampai kering baru bisa disimpan dan dapat
digunakan pada saat musim paceklik pakan ternak. pembuatan hay dengan model pod
diperlukan sedikit tambahan biaya, diperlukan rak sebagai tempat menyimpan
jerntami jagung yang telah dijemur selama 1-3 hari. rak tempat menyimpan jerami
jagung dapat berbentuk tripod yaitu rak jerami berkaki tiga atau tetrapod (rak
dengan kaki 4)pilihan rak mana yang akan dipilih tidak mengikat, pastinya rak
dapat digunakan untuk menyimpan jermai jagung selama 3-6 minggu sebelum
digunakan sebagai pakan ternak.

Keuntungan pembuatan hay adalah:

  1. Teknologinya sangat sederhana dan mudah untuk diterapkan oleh petani ternak;
  2. Pada saat panen jagung tersedia jerami jagung yang melimpah dan dapat disimpan, digunakan saat paceklik hijauan pakan ternak.

Sedangkan kelemahan dari pembuatan hai adalah:

  1. Sangat tergantung dengan keberadaan sinar matahari;
  2. Tidak semua jenis hijauan pakan ternak dapat dibuat hai;
  3. Perlu tenaga kerja untuk pembalikan jerami jagung dan simpan jemur pada saat proses pembuatannya.

Pembuatan silase, dilakukan dengan cara jerami jagung dipotong-potong dan dimasukkan
kedalam tempat/ruangan yang kedap udara dan dipadatkan untuk disimpan dalam
wadah tertentu.menghasilkan silase yang berkualitas baik perlu diperhatikan
benar temperatur pembuatan silase berkisar 27-35 derajat celsius dengan
hasilnya:

  1. Mempunyai tekstur segar;
  2. Berwarna kehijau-hijauan;
  3. Tidak berbau busuk;
  4. Tidak berjamur;
  5. Tidak menggumpal dan disukai
    ternak.

Prinsip utama pembuatan silase adalah:

  1. Menghentikan pernafasan dan sel-sel tanaman;
  2. Mengubah karbohidrat menjadi asam laktat melalui proses fermentasi kedap udara;
  3. Menahan aktifitas enzyme dan bakteri pembusuk.

Persyaratan lain yang harus dipenuhi oleh peternak yang akan membuat silase adalah harus
mempunyai luasan areal yang cukup untuk silo yaitu tempat menyimpan hijauan
proses pembuatan silase.idealnya pembuatan silase disesuaikan dengan kebutuhan
dengan patokan penggalian lubang setiap 150 meter kubik dapat menampung 150 kg
bahan kering hijauan.

Bahan baku silase jerami dapat menggunakan tanaman jagung yang belum panen dan tanaman
jagung setelah panen. pembuatan silase pada tanaman jagung yang belum panen,
kaya dengan kandungan gizi pakan utamanya zat gula yang akan membantu dalam
proses fermentasi dengan kandungan protein mencapai 11-15 per sen dan disukai
ternak. bila pilihan bahan baku silase pada tanaman jagung yang masih muda,
batang dan daun yang masih hijau untuk pembuatan silase. sedangkan pada
pembuatan silase yang menggunakan bahan baku tanaman jagung setelah panen,
pilihan jerami jagung yang berwarna hijau mempunyai kandungan serat kasar lebih
tinggi dibandingkan dengan jerami warna kuning.

Kwalitas produksi silase jerami jagung mempunyai kandungan gizi pakan mineral kalsium
yang rendah dan protein hanya mencapai 8,3 per sen karena itu perlu ditambahkan
urea dengan kadar 0,45 persen (4,5kg /ton silase) sebagaimana dianjurkan
direktorat pengembangan peternakan, yang akan memberikan peningkatan pada
kandungan protein silase jerami jagung dan cukup untuk memenuhi kebutuhan
protein sapi potong dan sapi perah. selain penambahan urea sebaiknya pada saat
pemberian pakan juga ditambahkan garam sebanyak 50 gr/ekor/hari. proses
pembuatan silase jerami jagung dilakukan dengan melayukan jerami jagung selama
2 hari dan dilakukan pemotongan dengan ukuran 3-5cm, selanjutnyaa dilakukan
pencampuran jerami jagung dengan bahan-bahan yang diperlukan pembuatan silase.
penambahan bahan-bahan pembuatan silase akan mempercepat proses fermentasi,
mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri pembusuk yang akan meningkatkan tekanan
osmosis sel-sel jerami jagung.

Bahan-bahan
yang digunakan untuk pembuatan silase ukuran 1 ton hijauan terdiri dari asam
organik(asam format, asam sulfat, asm aklorida/asam propionat)4-6 kg, molasses
atau tetes 40 kg, garam 30 kg,dedak padi 40 kg,menir 36 kg dan onggok 30 kg.
penambahan-bahan dilakukan secara merata keseluruh potongan jerami jagung yang
dibuat silase. pencamuran molasses atau tetes sebaiknya dilakukan secara
bertahap dengan cara pencampuran secara berlapis bergantian dengan campuran
bahan dan jerami jagung yang dipadatkan, pada saat penempatan jerami jagung
pada lubang galian tanah yang dikenal sebagai silo dan selanjutnya
dilakukan penutupan silo.

Pemdatan
jerami jagung dilakukan setelah proses pencasmpuran semua bahan yang diperlukan
kecuali molasses/tetes, masukkan potongan jerami jagung dengan cara
diinjak-injak sepadat mungkin dalam silo yang sudah diberikan atas lapisan
plastik yang menjadi tempat penampungan selama proses pembutan silase.
pemberian molasses/tetes dapat dilakukan dengan cara tumpukan padatan jerami
jagung dasar ditambahkan molasses/tetes 2 bagian, selanjutnya pada padatan
tumpukan lapisan tengah jerami jagung dapat diberikan molasses/tetes 3 bagian
kemudian lapisan tengah padatan tumpukan jerami jagung diberikan molasses/tetes
5 bagian. pencampurn molasses/tetes secara bertahap ini akan bercampur merata
selanjutnya padatkan kembali dan tutup dengan plastik dan tanah. penggunaan
silase sebagai pakan ternak dapat dilakukan setelah 8 minggu proses pembuatan
silase, dengan cara pengambilanya be
rtahap sesuai dengan kebutuhan
konsumsi ternak dan segera lakukan penutupan kembali.

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: